Fauzi Bowo Unggul Dibandingkan dengan Adang
Jakarta, Kompas – Hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia atau LSI menunjukkan, calon gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang diusung lima partai politik unggul dibandingkan dengan cagub Adang Daradjatun yang diusung Partai Keadilan Sejahtera. Meski demikian, kalangan pers bisa menjungkirbalikkan hasil jajak pendapat tersebut dalam waktu singkat.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif LSI Saeful Mujani dan pengamat Politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Indra Piliang, di Jakarta, Sabtu (17/3).
Saeful menjelaskan, survei dilakukan terhadap 1.050 responden pada 12-25 Februari 2007. Hasilnya, sebanyak 46 persen responden memilih Fauzi, 26 persen memilih Adang, dan 26 persen responden lainnya menyatakan belum memutuskan. Ia menambahkan, warga DKI yang belum mengenal nama Fauzi 40 persen dan Adang 45 persen.
Rano Karno
Rano Karno, sebagai pendamping, masih jadi faktor pendongkrak popularitas paling jitu. “Kalau Rano dipasangkan Adang, Adang mendapat 22 persen, sedangkan Fauzi cuma 27 persen. Tetapi, kalau Fauzi dipasangkan dengan Rano, hasilnya lebih banyak. Fauzi bisa mendapat 34 persen, sedangkan Adang 21 persen,” ujar Saeful.
Menurut hasil survei, calon wakil gubernur paling populer adalah Rano Karno (47 persen), Faisal Basri (24 persen), Biem Benyamin (12 persen), Ketua DPW Partai Demokrat Ferial Sofyan, Ketua DPD Partai Golkar Ade Sura Priyatna, dan mantan Komandan Puspom Jasri Marin, masing-masing 10 persen.
Bila dukungan terhadap partai ada hubungannya dengan dukungan terhadap cagub, kata Saeful, Adang bisa dipastikan kalah karena pemilih PKS tahun 2004 hanya 24 persen. “Sayangnya, belum ada bukti yang menunjukkan adanya korelasi antara dukungan partai dan dukungan terhadap cagub tersebut,” tuturnya.
Peran pers
Saeful mengakui, statistik jajak pendapat bisa dijungkirbalikkan secara mendadak oleh pers karena pers sangat berpengaruh atas kecenderungan pemilih. Kalau Fauzi atau Adang dinilai wartawan di lapangan negatif dan diwujudkan dalam tulisan yang bertendensi negatif, kerja keras cagub menggalang dukungan elite dan konstituen partai akan sia- sia. “Yang menjadi sumber masalah umumnya adalah perilaku komunikasi mereka terhadap wartawan. Kedua soal kepribadian dan ketiga soal cita rasa cagub yang bersangkutan,” ujar Saeful.
Perilaku komunikasi yang menghambat informasi dan pencitraan para cagub ini, menurut Indra, antara lain sulitnya wartawan bertemu atau memperoleh akses ke cagub, sikap cagub yang defensif, berbelit-belit, kurang artikulatif, dan arogan ketika menanggapi pertanyaan wartawan.
Indra memahami bila, baik Adang maupun Fauzi, belakangan tampak kurang peduli terhadap wartawan karena Fauzi lebih sibuk menggalang dukungan partai-partai, sementara Adang lebih banyak mengunjungi konstituen PKS. (WIN)