Koalisi Hanya untuk Kepentingan Sesaat Tak ada urusan dengan agama.
JAKARTA — Kalangan pengamat politik berpendapat koalisi partai-partai besar yang terbentuk guna menghadapi pemilihan Gubernur DKI Jakarta hanya dimaksudkan untuk mengejar kepentingan sesaat. “Tepatnya, untuk berbagi kekuasaan,” kata Syamsuddin Haris, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kemarin.
Yang paling jelas, menurut Syamsuddin, kepentingan jangka pendek itu berupa keinginan memuluskan jalan Fauzi Bowo menjadi orang nomor satu di Jakarta. Koalisi itu ingin menghadang laju Adang Daradjatun, calon gubernur yang dijagokan Partai Keadilan Sejahtera,
Kamis lalu pengurus 16 partai berikrar mengusung Fauzi Bowo, yang akrab disapa Foke, sebagai calon bersama dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada Agustus nanti. Koalisi itu antara lain beranggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Amanat Nasional. Beberapa partai gurem Ibu Kota juga ikut bergabung.
Syamsuddin membaca ada kesamaan pandangan di antara anggota koalisi tentang pentingnya membagi-bagi kekuasaan. “Bisa dibilang, mereka tak ingin PKS menjadi kekuatan tunggal,” ujar Syamsuddin.
Meski tak jadi mayoritas tunggal, PKS saat ini memang menguasai kursi terbanyak di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, yakni 18 dari 75 kursi DPRD. Menurut Syamsuddin, koalisi tak rela jika PKS pun memegang pucuk kekuasaan eksekutif (gubernur).
Indra J. Piliang, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies, berpendapat senada. Ia tak percaya koalisi besar itu terbentuk untuk membendung laju PKS di Jakarta dari sisi ideologi dan isu keagamaan. “Itu argumen tak valid. Ideologi dan agama bukan urusan gubernur,” kata Indra.
Menurut Indra, karena terbentuk untuk kepentingan jangka pendek, pola koalisi itu pun tak jelas. Partai yang di tingkat pusat seolah-olah berseberangan di tingkat lokal malah bisa jadi akur.
Indra memperkirakan koalisi itu bakal tercerai-berai begitu kepentingan jangka pendek tercapai. Dia mencontohkan koalisi PDI Perjuangan dengan Partai Bulan Bintang saat mengantarkan Gamawan Fauzi jadi Gubernur Sumatera Barat. Contoh teranyar, koalisi PDI Perjuangan dengan Partai Golkar dalam mengusung Ratu Atut Chosiyah jadi Gubernur Banten.
“Polanya sama, mereka lebih ingin merebut kekuasaan ketimbang memperbaiki pola kerja,” kata Indra.
Setelah deklarasi koalisi besar itu, calon yang bakal bertarung memperebutkan kursi DKI-1 mengerucut jadi dua: Fauzi Bowo, Wakil Gubernur DKI saat ini; dan Adang Daradjatun, bekas Wakil Kepala Kepolisian RI. Adapun nama lain yang sempat muncul, seperti Agum Gumelar, Sarwono Kusumaatmadja, dan Faisal Basri, otomatis terdepak dari bursa pencalonan. REZA MAULANA
KORAN